Lia Khairunnisa |
born to be a dentist | pages. words. happiness. sadness. and... you |
Aku mencintaimu lebih dari jiwaku.
Aku memikirkanmu dalam setiap detik hidupku.
Aku mendoakanmu di setiap hembus nafasku.
Aku membutuhkanmu dalam setiap tapak langkahku.
Aku menyayangimu kemarin, hari ini, dan selamanya.
Aku ada karena engkau.
Aku kuat karena kasihmu.
Tuntun aku selalu sampai nanti saatnya aku membahagiakanmu.
Bimbing aku selalu. Janjiku aku akan membuatmu tersenyum bangga, secepatnya, selamanya.
Genggam selalu tanganku hari ini, esok, dan seterusnya.
Betapa aku sangat mencintaimu dan menyayangimu dengan segenap jiwa ragaku.
Karena pengorbananmu, karena kasih sayangmu, dan karena ketegasanmulah yang membentukku menjadi pribadi yang kuat.
Mama adalah mama terhebat di seluruh jagat raya.
Tiada yang sebening, sesuci dan semurni cinta ibu. Karena dari rahimnya kamu ada, dari peluhnya kamu dewasa, dan dari cintanya kamu bermakna.
Dengan segenap cinta,
Tertanda,
Aku.
Kudengar beritanya kau sakit? Cepat sembuh ya. Aku memang terlalu pengecut sehingga untuk mengalamatkan sebuah pesan padamu saja jariku tak kuasa, ketakutan ini sudah berkuasa nampaknya. Namun satu hal, doaku selalu menyertaimu, ya, untuk kamu, nama yang tak pernah hilang. Sekali lagi, cepat sembuh, untukmu.
Aku berusaha untuk tetap tenang, menutupi semua yang sebenarnya aku simpan. Aku memang pintar memainkan peran. Mungkin sekarang ia fikir aku tulus, bertanya tentang betapa bahagianya dia, namun bahwa sesungguhnya dengan bahagianya aku tersiksa. Baik, aku memang egois, tapi aku sungguh tersiksa. Seandainya dia tahu bahwa air mata ini sudah di pelupuk dan sudah jatuh dari tadi jika aku tidak melawannnya. Aku hanya ingin menjadi kuat. Aku hanya ingin terlihat tegar. Namun ketahuilah, masih ada namamu disini, ya, kamu. Bisa kau lihat aku sejenak?
Rachel Berry
Dulu : Mister serong depan kanan
Sekarang : Mister serong depan kiri
Beda generasi sih :)
@adimasprajanto
Halo Tuan Elang Biru.
Ini kaktus merah muda. Masih ingat bukan?
Tuan, apa kabar? Aku rindu.
Ya Tuan, aku tahu rinduku ini tidaklah berguna untukmu, aku sadar tuan, aku paham.
Hmm tuan, sesungguhnya aku ingin mengundangmu untuk sekali lagi mampir ke gubukku.
Kopi ini masih sama Tuan, masih panas dan hitam pekat. Masih kopi yang sama, yang tidak akan membuatmu terjaga sepanjang malam.
Ruangan untukmu juga masih sama, di sudut dekat jendela, dengan terang benderang cahaya bintang.
Selimutnya pun masih sama, masih hangat, membawamu menjelajahi malam bersama mimpi-mimpi terindah.
Dan aku juga masih sama Tuan, masih terjaga.
Aku terjaga?
Sebenarnya aku ragu Tuan, apakah aku benar-benar terjaga atau aku sedang berada antara ilusi dan nyata.
Aku melihatmu datang sejenak lalu menghilang. Apakah benar itu dirimu Tuan?
Tuan, apakah kamu benar-benar ingin pergi dari tempatku? Lalu kemana kamu akan melangkahkan kaki?
Tuan, siapa yang menjemputmu? Aku melihatnya datang dengan perahu abu-abu. Perahu yang kini bersandar di dermagaku. Mungkin tak akan lama, mungkin sebentar lagi dia menghilang.
Siapa dia tuan?
Tuan, aku lihat langkahmu ragu. Jalan mana yang akan kau ambil tuan? Menuju aku atau perahu?
Tuan, jika kamu diambil orang, aku harus apa?
Tertanda,
Kaktus Merah Jambu
Aku ingin menjadi seperti burung. Terbang, bebas, tanpa takut tersesat, tanpa takut kehilangan arah, tanpa takut bahaya dunia luar, tanpa takut terjatuh. Terbang, lepas, tak peduli panas, tak peduli hujan. Terbang, tinggi, sesuka hati, tiada yang melarang, tiada yang menahan. Namun, ada kalanya ia kembali ke sarang. Mendapatkan kehangatan di dalamnya, keteduhan, dan kenyamanan. Membawanya kembali pulang ke tempat dimana ia harus pulang.
@viatumblr
Tidak ada yang dapat mencintaiku semulia Engkau mengampuniku. Tidak ada. Aku penuh dengan bercak-bercak dosa, aku tak luput...
Cameron Mitchell - Your Song (Acoustic/soundcloud version)
(If you’re reposting the audio/download...
Cameron Mitchell - Blackbird (youtube rip)
(If you’re reposting the audio/download links please...